Palestin

Ramadan Kelabu di Gaza, Israel Kembali Bikin Warga Palestin Kelaparan dan Terancam Hidup Tanpa Elektrik

Published

on

Israel memutuskan untuk menghentikan semua masuknya barang dan pasokan makanan ke Jalur Gaza mulai 2 MaC 2025. Tujuan tindakan ini, menurut Israel, adalah untuk memaksa Hamas memperpanjang gencatan senjata sekaligus membebaskan lebih banyak tawanan.

Keputusan ini tidak diterima baik oleh banyak pakar hak asasi manusia. Mereka mengecam tindakan Israel sebagai “kelaparan yang dijadikan sebagai senjata,” memperlihatkan betapa seriusnya tindakan tersebut terhadap warga Gaza.

Menurut para ahli independen PBB, tindakan Israel jelas melanggar hukum internasional dan harapan perdamaian. Mereka mengingatkan Israel bahwa sebagai kekuatan pendudukan, Israel memiliki tanggung jawab untuk memastikan akses menyebabkan makanan, bekalan perubatan, dan layanan bantuan lain kepada warga yang terjejas.

Dengan memotong bekalan penting, termasuk bantuan berkaitan kesihatan seksual dan pembiakan serta alat bantu untuk orang kurang upaya, Israel dianggap menjadikan bantuan sebagai senjata, yang memperburuk keadaan di Gaza.

Kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya bertujuan untuk menghentikan permusuhan secara tetap tidak memberikan hasil yang diharapkan. Sebaliknya, keadaan semakin buruk, dengan meningkatnya kekerasan dan kemusnahan yang dialami warga Palestin. Ini juga dianggap melanggar hukum dan berkontradiksi dengan prinsip kemanusiaan.

Gencatan senjata yang ada sebelumnya menjadikan warga Gaza merasa bahwa mereka akan merayakan Ramadan 2025 dengan cara yang berbeza. Namun, situasi ini berubah dengan cepat setelah tindakan Israel.

Selain menghentikan bantuan kemanusiaan, Israel juga memutuskan aliran elektrik ke Jalur Gaza. Ini diperkuat dengan pernyataan dari Menteri Energi Israel, Eli Cohen, yang mengatakan bahawa mereka “segera memutus aliran elektrik.”

Media Israel menyatakan bahawa pemutusan elektrik mungkin tidak dramatik yang dilaporkan. Berdasarkan sumber, semua aliran elektrik ke Gaza sudah diputus sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan banyak kematian dan penculikan.

Pada November 2024, aliran elektrik ke pabrik desalinasi di Deir el-Balah pulih, yang sangat penting bagi sekitar 600 ribu warga awam. Tetapi kini, pabrik tersebut beroperasi dengan sumber tenaga yang terhad akibat pemotongan bekalan elektrik oleh Israel.

Selain menghentikan bantuan dan aliran elektrik, Israel juga meningkatkan serangan ketenteraan di seluruh Gaza dan memberi tahu media bahawa mereka sedang mempersiapkan dimulainya kembali pertempuran. Ini menunjukkan bahwa keadaan di kawasan tersebut semakin tegang dan mendesak.

Keputusan Israel untuk menghentikan semua barang dan pasokan makanan ke Jalur Gaza menunjukkan dinamika konflik yang rumit dan berlarut-larut, dan reaksi dari pakar hak asasi manusia menyuluh perlunya perhatian global terhadap perlakuan terhadap warga yang terkena dampak. Tindakan ini, bersamaan dengan pemutusan elektrik dan serangan ketenteraan, semakin memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut, dan menimbulkan kekhawatiran akan pelanggaran hak asasi manusia.

Sumber Ramadan Kelabu di Gaza, Israel Kembali Bikin Warga Palestina Kelaparan dan Terancam Hidup Tanpa Listrik – Lifestyle Liputan6.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version